<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://travelingjogja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://travelingjogja.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Jun 2009 17:39:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='travelingjogja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://travelingjogja.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://travelingjogja.wordpress.com/osd.xml" title="" />
	<atom:link rel='hub' href='http://travelingjogja.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pabrik Mi yang Menghidupi</title>
		<link>http://travelingjogja.wordpress.com/2009/06/11/pabrik-mi-yang-menghidupi/</link>
		<comments>http://travelingjogja.wordpress.com/2009/06/11/pabrik-mi-yang-menghidupi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 12:20:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adrozenahmad</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tempat-tempat Menarik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://travelingjogja.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[*** PABRIK MI YANG MENGHIDUPI &#62;&#62;Teks dan Foto: Adrozen Ahmad AREAL BANGUNAN buatan akhir 1930-an itu lebih tampak sebagai sebuah museum ketimbang pabrik mi. Tiang-tiang penyangganya masih kokoh berdiri, namun sekilas pandang orang takkan menyangka bahwa bangunan itu memiliki kisah panjang sebelum akhirnya pada kurun 1985 hingga 2002 operasinya terpaksa harus terhenti. Tapi itu dulu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingjogja.wordpress.com&amp;blog=8129464&amp;post=3&amp;subd=travelingjogja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://img110609travelingjogja.wordpress.com/" target="_blank"><img class="alignnone size-full wp-image-4" title="Silinder Sapi" src="http://travelingjogja.files.wordpress.com/2009/06/silinder-sapi.jpg?w=450&#038;h=299" alt="Silinder Sapi" width="450" height="299" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:center;"><strong>PABRIK MI YANG MENGHIDUPI<br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;">&gt;&gt;Teks dan Foto: Adrozen Ahmad</p>
<p><strong>AREAL BANGUNAN</strong> buatan akhir 1930-an itu lebih tampak sebagai sebuah museum ketimbang pabrik mi. Tiang-tiang penyangganya masih kokoh berdiri, namun sekilas pandang orang takkan menyangka bahwa bangunan itu memiliki kisah panjang sebelum akhirnya pada kurun 1985 hingga 2002 operasinya terpaksa harus terhenti.</p>
<p><span id="more-3"></span>Tapi itu dulu sekitar tujuh tahun yang lalu. Sebelum Salmah (63 tahun) pemilik pabrik mi tradisional yang berlokasi di Dusun Bendo, Trimurti, Srandakan, Bantul, Yogyakarta ini didatangi sejumlah penambang pasir kali progo untuk meminta pengoperasian kembali pabrik mi yang pernah berjaya pada kurun tahun 1940 hingga 1985 itu.</p>
<p>Kala itu akhir tahun 2002. Sebagian penambang pasir kali progo yang notabene mantan karyawan di pabrik mi <em>lethek</em> bermerek ‘Garuda’ itu merasa bahwa lahan pencaharian mereka mulai menyusut karena menipisnya pasir akibat dibangunnya sejumlah dam di kawasan hulu sungai progo. Sedangkan pabrik mi tempat mereka pernah berkarya itu sudah tutup sejak tahun 1985.</p>
<p>Begitu mendapat usulan dari para mantan karyawannya lantas bu Salmah, begitu sejumlah karyawannya menyapanya, menawarkan kepada salah seorang putranya, Yasir Ferry Ismatrada, untuk kembali membuka lahan berkarya yang pernah menghidupi sejumlah warga di desanya. Syahdan, Ferry pun bersedia. Dengan peralatan yang serba tradisional ia kembali memutar roda ekonomi untuk keluarganya dan sejumlah karyawannya.</p>
<p>Salmah adalah istri dari almarhum Ismed Bakir Saleh yang merupakan pemilik pabrik mi generasi kedua setelah mewarisi pabrik ini pada 1972. Bersama suaminya ia memegang tongkat estafet pabrik ini dari ayahnya, Umar Bisyir Nahdi, yang mendirikannya sekitar tahun 1940. Uniknya, ketika tampuk kepemimpinan dialihkan kepada putranya hampir tak satu pun dari peralatan produksi yang sudah berumur sekian puluh tahun itu digantikan dengan peralatan modern yang lebih efisien produktivitasnya, termasuk silinder pengaduk adonan yang masih menggunakan tenaga sapi.</p>
<p>Alasannya sederhana, agar pabrik mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak. “Jika semua dilakukan dengan peralatan modern saya juga takut rasanya nanti akan berbeda,” ujar Salmah sembari mengisahkan kronologi pembuatan mi <em>lethek</em> yang dalam cuaca cerah membutuhkan masa produksi selama dua hari ini.</p>
<p>Boleh dibilang pabrik mi dengan frekuensi produksi sebanyak 28 kali sebulan ini sedikit banyak menopang kehidupan ekonomi masyarakat sekitar. Karena dari 40-an karyawannya sebagian besar adalah warga Dusun Bendo. Bahkan yang menarik lagi adalah rata-rata usia mereka empatpuluh tahun ke atas dan hanya sekitar lima orang karyawan saja yang berusia tigapuluhan.</p>
<p>Seperti Yogo (75 tahun), lelaki yang mengaku sudah menjadi karyawan sejak masa awal berdirinya pabrik ini misalnya, dalam usia yang boleh dibilang tidak lagi produktif itu masih saja ia terlihat giat berkarya meski hanya bertugas di bagian penjemuran. Begitu juga dengan Kasiman (50 tahun), karyawan spesialis bagian pengaduk adonan dengan silinder ini mengaku bahwa ia sudah bergabung sejak tahun 1976. Meski hanya dengan upah Rp8.000,00 per hari ia tetap bersemangat bekerja untuk menghidupi putranya yang berjumlah 3 orang.</p>
<p>Lain halnya dengan Yanto (46 tahun), karyawan bagian pengepakan ini bertutur bahwa ia baru 5 tahun ini bergabung. Namun ia sudah merasa cukup dengan upah Rp20.000,00 per hari untuk menghidupi keluarganya. “Saya baru bekerja di sini setelah pabrik mi milik saya tutup,” ujar ayah satu orang putra dan satu orang putri yang mengaku pernah memiliki pabrik serupa dan akhirnya tutup akibat kurangnya tenaga pengelola.</p>
<p>Seperti halnya bagi sejumlah karyawan lainnya, Yanto merasa bahwa apa yang membuat dia betah untuk tetap bekerja di pabrik mi itu adalah karena adanya rasa kekeluargaan baik antar karyawan maupun dengan pihak pengelola. Seringkali pihak pengelola pabrik menyediakan logistik tambahan berupa makanan ringan dan lain sebagainya.”Enaknya di sini makanan sudah terjamin dan pihak pabrik juga tidak mempermasalahkan faktor usia,” ujarnya sembari mengatakan bahwa sempitnya lapangan pekerjaan juga menjadi penyebab yang tidak bisa dielakkan terutama bagi para karyawan yang sudah tidak kuat lagi menambang pasir di sungai karena faktor usia.</p>
<p>Karena masa produksi selama dua hari, pihak pabrik membuat kebijakan mekanisme dua hari kerja satu hari libur. Kebijakan ini  seringkali juga dimanfaatkan oleh karyawan untuk ngompreng a lias mencari tambahan uang dengan menaikkan pasir ke truk pengangkut pasir. Maklum, upah dari pabrik hanya berkisar antara Rp8.000,00 – Rp20.000,00 per hari tergantung keahlian kerja masing-masing karyawan. Meski demikian upah dari  hasil  ngompreng  juga tidaklah   banyak. Antara duaribu hingga limaribu rupiah setiap satu truk per orang. “Tapi itu khusus bagi mereka yang masih muda-muda. Tapi kalau yang sudah tua <em>ya ndak</em> kuat,” tuturnya sembari tersenyum.</p>
<p>Saat ini kondisi pabrik mi yang memakai bahan dasar campuran tepung tapioka dan tepung gaplek ini jauh melesat dibanding tujuh tahun yang lalu. Jika pada saat awal kebangkitannya Yasir Ferry Ismatrada harus dengan susah payah menawarkan produknya dari pasar ke pasar, namun sekarang mi produksinya sudah banyak diminati di Yogyakarta. Bahkan konon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyukai mi seharga Rp 6.500,00  per kilo ini dan memesannya  secara berkala.***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/travelingjogja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/travelingjogja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/travelingjogja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/travelingjogja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/travelingjogja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/travelingjogja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/travelingjogja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/travelingjogja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/travelingjogja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/travelingjogja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/travelingjogja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/travelingjogja.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/travelingjogja.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/travelingjogja.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=travelingjogja.wordpress.com&amp;blog=8129464&amp;post=3&amp;subd=travelingjogja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://travelingjogja.wordpress.com/2009/06/11/pabrik-mi-yang-menghidupi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8ea5dde6607d1f572617720c62417485?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">zen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://travelingjogja.files.wordpress.com/2009/06/silinder-sapi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Silinder Sapi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
